Ini Penyebab Rancunya Data Covid-19

  • Bagikan
Emi Abriyani

PALANGKA RAYA/tabengan.com – Menyikapi dorongan dari Ketua DPRD Kota Palangka Raya Sigit K Yunianto agar Tim Satgas Covid-19 Kota setempat melakukan pengakurasian data kasus Covid-19 dengan provinsi, mendapat tanggapan pihak terkait.

Ketua Harian Tim Satgas Covid-19 Kota Palangka Raya Emi Abriyani tak menampik jika data kasus konfirmasi positif Covid-19 maupun suspek masih terdapat kendala yang saat ini tengah diupayakan perbaikannya.

Selama ini, ujar Emi, data all record kasus Covid-19 di Kota Palangka Raya dalam penginputan datanya menggunakan alamat KTP dari yang bersangkutan. Hal inilah yang menjadi kendala mengapa data kasus antara pihak pemerintah kota dan pemerintah provinsi masih terdapat perbedaan.

“Kalau data pihak Pemprov menggunakan alamat KTP dari pasien Covid-19, maka Tim Satgas Kota melalui tim tracing menggunakan alamat domisili. Ini yang sering terjadi perbedaan dalam penginputan data,” jelasnya saat dikonfirmasi Tabengan, Rabu (4/8).

Emi mencontohkan, apabila data pasien yang digunakan adalah alamat KTP, maka data akan menjadi rancu. Misal pasien A adalah warga yang ber-KTP Kota Palangka Raya, namun ternyata domisilinya di Kabupaten Pulang Pisau. Jika pasien A terkonfirmasi positif di wilayah domisilinya, maka data yang masuk adalah data Kota Palangka Raya.

“Kami pernah mendapatkan laporan kasus jika ada salah satu warga di Kelurahan Palangka terkonfirmasi positif. Namun, setelah tim tracing datang, ternyata yang bersangkutan saat ini berdomisili di Kota Pulang Pisau bersama keluarganya. Data yang masuk ke pihak provinsi adalah data kota, tapi kota nyatanya tidak menemukan mereka di rumah, bahkan tidak merawat yang bersangkutan di sini,” beber Emi.

Alasan pihaknya mengusulkan data all record menggunakan alamat domisili pasien, mengurangi kerancuan dalam input data. Apabila pasien ber-KTP kabupaten lain, akan tetapi domisili di Kota Palangka Raya maka yang bersangkutan adalah warga domisili Palangka Raya. Hal tersebut menunjukkan kondisi riil kasus Covid-19 di lapangan.

Kota Palangka Raya sebagai Ibu Kota Provinsi Kalteng dan adanya RSUD rujukan khusus Covid-19, maka dinilai wajar jika banyak masyarakat menginginkan perawatan di Kota Cantik.

“Sebenarnya kita telah ajukan hal ini kepada pihak Pemprov agar gunakan data domisili saja untuk data all record. Tinggal tunggu bagaimana tindak lanjut dari pihak provinsi,” jelas Emi.

Pentingnya data yang akurat, disebutkannya berguna untuk menentukan arah kebijakan mengenai mitigasi penanganan Covid-19 yang efektif, efisien dan tepat sasaran.

Apabila data pasien positif yang masuk merupakan data warga ber-KTP Palangka Raya, namun ternyata berdomisili di kabupaten lain dan dirawat di daerah domisilinya, maka variabel data yang Tim Satgas gunakan untuk menentukan kondisi kasus dan pemetaan daerah di Kota Palangka Raya menjadi kurang tepat.

“Untuk penanganan Covid-19, Pemko tidak pernah membeda-bedakan dari mana mereka berasal. Semua mendapatkan hak yang sama. Namun, data ini juga penting, agar kebijakan yang kita ambil akan benar-benar bermanfaat dan mencerminkan kondisi masyarakat Kota Palangka Raya agar pandemi ini bisa segera kita atasi dengan tepat,” jelas Emi. rgb

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *